FAKTOR PEMADANAN DALAM PENERJEMAHAN KATA KEPALA BUDAYA KAMUS DWIBAHASA

(Equivalence Factors in Headwords Transfer of Bilingual Dictionaries)

 

Oleh/ By:
Kahar Dwi Prihantono
Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
Jalan Elang Raya No. 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang,
Telepon 024-70769945 Faksimile 024-70799945
Pos-el: akang_har@yahoo.com

Diterima: 10 Januari 2013, Disetujui: 11 Maret 2013

 

ABSTRAK

Transfer merupakan istilah untuk mendeskripsikan tahapan kedua di dalam proses leksikografis. Di dalam kamus dwibahasa, tahapan ini mencakupi penerjemahan unit leksikal bahasa sumber (BSu), pemilihan padanan bahasa sasaran (BSa), dan pemeriksaan ulang padanan BSa termasuk padanan yang terbaik dan paling sesuai dengan semua konteks yang mengikuti kata kepala. Penelitian ini menyelidiki faktor pemadanan (equivalence factors) kata kepala-kata kepala budaya yang mencakupi isi semantis (semantic content), konteks kolokasi, tipe kosakata, dan pesan. Objek penelitian ini adalah entri A Comprehensive Indonesian-English Dictionary karya Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall-Tellings yang disandingkan dengan Bausastra Jawa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Merriam Webster Online Dictionary, dan Javanese-English Dictionary. Kajian ini menunjukkan bahwa kata kepala budaya ‘apik’ berpadan sebagian dan berawapadan dengan padanan smart, neat, nice, attractive, chic, tidy, orderly, kata kepala budaya ‘angon’ berawapadan dengan shepherd dan herdsman, dan kata kepala budaya ‘anglo’ berpadan sebagian dengan padanan charcoal brazier, electric stove  serta berawapadan dengan hot plate.

Kata kunci: kamus dwibahasa, transfer, faktor pemadanan, isi semantis, padan penuh, padan sebagian, awapadan.

 

ABSTRACT

Transfer is a term to describe the second phase in the lexicographical process. In bilingual dictionaries, this phase includes the translation of the source language (SL) lexical units, the selection of the target language (TL) equivalents, and the re-examination of the TL equivalents whether they are the best and the most appropriate equivalents to all potential contexts of the headwords. This study investigated the equivalence factors of cultural headwords including semantic content, collocational context, type of vocabulary, and message. Object of this study is the entries of A Comprehensive Indonesian-English Dictionary of Alan M. Stevens and A. Ed. Schmidgall-Tellings’compared to entries of Bausastra Jawa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Merriam Webster Online Dictionary, dan Javanese-English Dictionary. The results of the discussion proved that cultural headword such as ‘apik’ has partial equivalence to ‘smart, neat, nice, attractive, chic, tidy, orderly’. Cultural headword of ‘angon’ has zero equivalence to ‘shepherd’ and ‘herdsman’. Finally, cultural headword of ‘anglo’ has partial equivalence to‘charcoal brazier’ and ‘electric stove’ and has zero equivalence to ‘hot plate’.

Keywords: bilingual dictionary, transfer, equivalence factor, semantic content, perfect equivalence, partial equivalence, zero equivalence.

 

Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan, Volume 9, Nomor 1, Mei 2013, halaman 59-71

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas