Putih Langsat atau Kuning Langsat?

oleh Umi Farida

 

Beberapa waktu lalu kita sering mendengar ungkapan putih langsat. Ungkapan ini dijadikan slogan untuk rangkaian perawatan kecantikan sebuah produsen kosmetika terkenal di Indonesia. Jika ada ‘putih langsat’ dan ‘kuning langsat’, apakah ada ‘hitam langsat’, ‘hijau langsat’, ‘merah langsat’, dan ‘biru langsat’?

Mari kita telisik lebih lanjut makna ungkapan putih langsat dan kuning langsat ini. Putih langsat atau kuning langsat terdiri atas dua kata, yakni kata putih dan langsat atau kuning dan langsat. Kata putih dan kuning mengacu pada warna, sedangkan kata langsat mengacu pada buah langsat, yaitu ‘buah yang bentuknya mirip dengan buah duku, tetapi rasanya lebih asam’. Kata-kata tersebut merupakan kata majemuk yang unsur-unsurnya bertingkat atau kata majemuk subordinatif, yakni unsur yang satu menerangkan unsur yang lain dalam hubungan perbandingan atau metafora. Kata ruas pertama dibandingkan dengan kata ruas kedua, contoh kata majemuk perbandingan yang setipe dengan kata majemuk tersebut, antara lain, biru laut, merah jambu, bulat telur, hijau daun, dan merah delima.            

Berdasarkan hubungan antarunsur tersebut, kata majemuk putih langsat berarti warna putih yang dibandingkan/diibaratkan dengan buah langsat. Padahal, buah langsat jika dilihat dari kulitnya berwarna kuning kecokelatan. Jika dilihat dari isinya atau daging buahnya, buah langsat berwarna seperti air jernih agak kecokelatan. Warna putih dalam buah langsat terdapat dalam lapisan kulit bagian dalam dan getahnya. Tentu saja, warna putih getah dan lapisan kulit bagian dalam ini tidak bisa mewakili warna buah langsat. Sekilas saja jika orang ditanya seperti apa warna buah langsat, yang terbayang adalah warna kulit luar buah langsat, yakni kuning kecokelatan. Dengan demikian, ungkapan yang mendekati dan mewakili pengibaratan warna langsat adalah kuning langsat, bukan putih langsat. Artinya, warna kulit yang diharapkan setelah menggunakan produk tersebut adalah warna kulit seperti buah langsat, yaitu kuning kecokelatan seperti umumnya warna kulit wanita Indonesia. Sedangkan warna putih dapat diibaratkan dengan mutiara atau melati, sehingga muncul ungkapan seputih mutiara atau seputih melati.

Mengacu pada pengertian tersebut, warna-warna lain yang dibandingkan dengan langsat, seperti hitam langsat, hijau langsat, merah langsat,dan biru langsat tidak berterima karena maknanya tidak tepat. Masing-masing warna tersebut sudah memiliki perumpamaannya sendiri.

 

 

 

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 3, MeiJuni 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas