SANTUN DALAM BERBAHASA

(Politeness Principle in Communication)

 

Oleh/ By:
Hesti Widyastuti
Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret
Jalan Ir. Sutami 36 A Surakarta
Telepon/Faksimile 0271-632450
Pos-el: mitahapsari14@gmail.com

Diterima: 2 Februari 2013, Disetujui: 4 November 2013

 

ABSTRAK

Tujuan berkomunikasi adalah untuk menyampaikan pesan dan sekaligus menjalin hubungan sosial (social relationship). Komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan diperlukan kepatuhan terhadap co-operative principle bagi pembicara maupun mitra bicara. Selanjutnya, komunikasi yang bertujuan untuk menjalin hubungan sosial diperlukan pemahaman aspek sosiokultural antarkedua belah pihak, serta kemampuan untuk menghubungkan dengan konteks situasi (situational context), konteks gramatikal (grammatical context), dan yang terpenting adalah konteks budaya (cultural context) tempat percakapan berlangsung. Dalam berkomunikasi sering terjadi saling berlawanan antara prinsip-prinsip percakapan dengan prinsip-prinsip kesopanan. Di satu sisi prinsip-prinsip percakapan menuntut untuk dipatuhi agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh mitra bicara, tetapi di sisi lain prinsip-prinsip tersebut terpaksa harus dilanggar demi keharmonisan hubungan sosial. Oleh karena itu, sering digunakan ungkapan-ungkapan secara tidak langsung atau ungkapan-ungkapan yang dianggap halus. Bahkan, sebagian besar budaya Indonesia memberlakukan strategi kesopanan dengan ungkapan tidak langsung, eufemisme, dan bahkan dengan strategi basa-basi.

Kata kunci: komunikasi, hubungan sosial, sosiokultural, prinsip-prinsip percakapan, prinsip-prinsip kesopanan.

 

ABSTRACT

The aim of communication is both to deliver message and to build social relationship.Communication aims at delivering message requires obedience toward co-operative principles of both the sender and the receiver. Next, communication aims at building social relationship requires socio-cultural understanding between a speaker and his communication partner and an ability to comprehend situational, grammatical and cultural context. During a communication process, violations sometimes occur between conversational and politeness principles. On one hand, conversational principles need to be obeyed in order to get best understanding for the target receiver. On the other hand, those principles are perforced to violate, due to a harmony in social relationships. Therefore, indirect expressions and euphemism are usually performed. Moreover, most cultures in Indonesia adapt politeness strategy by taking advantage of indirect expressions, euphemism, and courtesy strategy.

Keywords: communication, social relationship, socio-cultural, conversational principles, politeness principles.

 

Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan, Volume 9, Nomor 2, November 2013, halaman 15-25  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas