Warna Lokal dalam Cerpen Indonesia

oleh Enita Istriwati

Istilah warna lokal berasal dari bahasa Inggris local colour atau bahasa Perancis couleur locale. Warna lokal berkaitan dengan latar cerita yang menggambarkan tempat (daerah tertentu), tradisi masyarakat, dialek, adat dan kebiasaan, dll. Warna lokal membuat cerpen menjadi lebih menarik dan hidup, serta melestarikan budaya daerah setempat. Kekuatan warna lokal akan lebih terlihat dalam sikap para tokoh dan lingkungan tempat tinggalnya dalam cerita.

 

Warna lokal atau local colour memberikan pengaruh sangat besar dalam perkembangan cerpen di Indonesia. Pada awal perkembangan fiksi di Indonesia warna lokal ini sangat menonjol. Sejumlah karya pengarang dari Sumatra Barat menunjukkan betapa kuatnya warna lokal pada zaman penerbit Balai Pustaka. Nama-nama pengarang Sumatra Barat yang membawa corak warna lokal, seperti Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis. Berikutnya disusul munculnya pengarang A.A. Navis, Chairul Harun, Darman Moenir, Haris Effendi Thahar.

 

Setelah Sumatra Barat, muncul pengarang-pengarang dari Bali, Sulawesi, NTT, Kalimantan, dan Jawa. Adapun I Gusti Panji Tisna, Putu Arya Tirtawirya, Ngurah Parsua, Faisal Baraas, dan Nyoman Rasta Sindhu merupakan pengarang yang membawa corak warna lokal dari Bali dan Lombok. Sementara itu, Canny R. Talibonso, Aspar, dan S. Sinansari Ecip memperlihatkan corak warna lokal Sulawesi. Warna lokal dari Nusa Tenggara Timur diperlihatkan oleh pengarang Gerson Poyk, sedangkan warna lokal dari Kalimantan diperlihatkan pengarang Yusakh Ananda. Warna local di wilayah Jawa Tengah dilukiskan sangat bagus, misalnya dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk oleh Ahmad Tohari dan di wilayah Jawa Timur oleh Toha Mochtar. Penggunaan warna lokal oleh pengarang sangat mendukung penceritaan yang hidup dan khas.

 

 

 

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 4, JuliAgustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top