Siaran Interaktif Bina Bahasa dan Sastra Indonesia: “Penggunaan Bahasa pada Bacaan Anak-Anak”

Dewasa ini buku bacaan anak telah berkembang pesat. Banyak buku bacaan untuk anak-anak yang diterbitkan oleh berbagai penerbit sehingga anak memiliki banyak pilihan bacaan. Meskipun demikian, orang tua hendaknya dapat memilah buku yang baik dan tepat untuk dibaca oleh sang buah hati. Narasumber utama, Enita Istriwati, S.Pd., mengulas hal tersebut dalam Siaran Interaktif Bina Bahasa dan Sastra yang dimoderatori oleh Aris Budiyanto pada 20 Mei 2014, pukul 20.00—21.00 .

 

Dalam siaran yang bertema “Penggunaan Bahasa pada Bacaan Anak-Anak” itu, Enita Istriwati, S.Pd. memaparkan beberapa hal yang membedakan bacaan anak-anak dengan bacaan orang dewasa. Ada empat titik tolak yang dapat diambil untuk merumuskan secara khusus karakteristik bacaan anak-anak, yaitu tradisional, idealistis, populer, dan teoretis. Rumusan tradisional menunjuk pada sumber-sumber materi cerita anak-anak, sedangkan rumusan idealistis bersifat eksklusif. Adapun rumusan populer menyiratkan anggapan bahwa semua buku yang disenangi anak-anak bersifat baik dan sesuai untuk usia anak. Sementara itu, rumusan teoretis ialah bimbingan dan arahan dari masyarakat dan penulisannya dilakukan oleh orang-orang dewasa.

 

Selain empat hal tersebut, unsur tema dan amanat dalam bacaan anak juga sangat penting. Tema yang baik untuk anak-anak adalah tema yang sesuai dengan kehidupan anak-anak, misalnya kepahlawanan, suka-duka pengembaraan, peristiwa sehari-hari, kisah perjalanan, dan petualangan. Adapun amanat dalam bacaan anak sebaiknya bersifat afirmatif, yaitu bacaan yang menimbulkan respons positif sekaligus bisa menyediakan jawaban keingintahuan anak-anak.

 

Endro Nugroho, S.S., sebagai narasumber pendamping menjelaskan, bacaan anak seharusnya menggunakan bahasa langsung. Gaya bercerita pada bacaan anak sebaiknya tidak bertele-tele atau berbelit-belit dengan deskripsi dialog yang wajar dan hidup sehingga tokoh-tokoh, sifat tokoh, dan peran tokoh tersaji dengan jelas. Selain dua hal tersebut, yang membedakan antara bacaan anak dan bacaan dewasa ialah fungsi terapan. Fungsi terapan dalam bacaan anak-anak dapat ditunjukkan, antara lain, oleh adanya unsur-unsur yang dapat menambah pengetahuan umum.

 

Enita Istriwati, S.Pd. menambahkan bahwa bahasa yang digunakan dalam bacaan anak biasanya berupa kalimat sederhana. Seiring dengan pertambahan usia anak, kalimat yang digunakan pada bacaan anak dapat berupa kalimat luas. Kosakata yang digunakan pun awalnya sederhana, kemudian berkembang menggunakan banyak istilah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas