Penulisan Bentuk Gabung

Penulisan kata-kata yang digabung dan dipisah sudah diajarkan di bangku sekolah. Namun, kenyataannya masih sering dijumpai bentuk-bentuk yang seharusnya digabung, tetap ditulis terpisah dan bentuk-bentuk yang seharusnya ditulis terpisah malah digabung. Contohnya adalah kata *di jual, *di kontrakkan, *di sewakan, dan sebagainya. Kata *di jual seharusnya ditulis digabung menjadi dijual, karena di dalam kata tersebut bukan kata depan, melainkan awalan. Di sebagai awalan (prefiks) adalah penanda kata kerja pasif harus ditulis gabung dengan kata yang mengikutinya, misalnya: dimakan, diminum, dibaca, ditulis. Sementara itu, di sebagai kata depan (preposisi) ditulis secara terpisah dengan kata yang mengikutinya, contohnya: di pasar, di sekolah, di halaman, di rumah. Cara membedakan di yang harus digabung atau dipisah adalah dengan menggantikan awalan di- dengan meng-, contohnya: bentuk di dalam kata dijual dapat digantikan dengan meng– menjadi menjual. Hal itu diungkapkan oleh Umi Farida, S.S. dalam Siaran Bina Bahasa di RRI Semarang pada 16 September 2014 pada pukul 20.00—21.00.

Emma Maemunah, S.S., M.Hum. menambahkan bahwa kita dapat membedakan di yang dipisah dan digabung dengan melihat konteks kalimat. Jika di digantikan dengan meng- sudah tidak cocok berarti ditulis terpisah. Akan tetapi, jika awalan di digantikan dengan meng- ada yang cocok, seperti kata dibalik bisa diganti dengan kata membalik. Kata tersebut harus diterapkan pada konteks kalimat, misalnya dalam kalimat dia bersembunyi di balik pintu. Kalimat ini tidak bisa diganti menjadi dia bersembunyi membalik pintu karena kalimatnya menjadi tidak logis. Artinya, bentuk di dalam susunan kata di balik pintu adalah kata depan (preposisi), bukan awalan kata kerja pasif. Jadi, penulisan di pada kata tersebut harus ditulis terpisah. Berbeda dengan di- dalam kalimat Buku itu dibalik oleh Nida, kalimat ini bisa diganti Nida membalik buku itu. Penulisan kata dibalik dan membalik dalam dua kalimat terakhir ini ditulis dengan cara digabung karena di- dan meng- merupakan awalan.

Dua narasumber yang berasal dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tersebut melanjutkan bahwa kata majemuk harus ditulis terpisah, contoh: tanda tangan, terima kasih, tanggung jawab, kambing hitam. Apabila kata majemuk itu mendapatkan awalan atau akhiran saja, awalan atau akhiran itu harus dirangkai dengan kata yang dekat dengannya, sedangkan kata lainnya tetap ditulis terpisah dan tidak diberi tanda hubung. Contoh: berterima kasih, bertanda tangan, bertanggung jawab. Jika gabungan kata dalam kata majemuk tersebut dibubuhi akhiran, misalnya akhiran –i dan –kan. Imbuhan –i dan –kan ditulis serangkai dengan kata di depannya, contoh: gabungan kata tanda tangani, garis bawahi. Selain imbuhan, klitik (seperti -mu, -nya) juga ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya, misalnya, tanggung jawabmu. Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan dan akhiran, penulisan gabungan kata harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung. Contoh: kata menandatangani, pertanggungjawaban atau mempertanggungjawabkan, mengambinghitamkan, menggarisbawahi. Penggunaan kata *pertanggungan jawab, *pembebasan tugas, *kewargaan negara, *menggarisi bawah kurang tepat karena terpengaruh struktur bahasa Jawa.

Dalam bahasa Indonesia ada pula gabungan kata yang dianggap sudah padu benar dan sulit dikembalikan pada arti kata-kata itu. Contoh: bumiputra, belasungkawa, halalbihalal, kepada, segitiga, padahal, matahari, daripada, beasiswa, cinderamata, sukacita, dukacita. Selain itu, ada pula gabungan kata dengan morfem terikat swa-, pasca, maha, pra, pro, dan anti. Misalnya, kata dwiwarna, tunawisma, swadaya, swalayan, pascasarjana, pascapemilu, mahasiswa, praperadilan, prorakyat, dan antikorupsi.

Adapun khusus penulisan kata maha terdapat pengecualian. Jika maha ditambahkan dengan kata dasar, ditulis serangkai dengan unsur berikutnya. Contoh: maha dan bijaksana ditulis serangkai menjadi Mahabijaksana; demikian pula dengan kata Mahabesar dan Mahakuasa. Semuanya ditulis tergabung. Penulisan maha dan kata yang mengikuti ditulis terpisah jika bertemu dengan kata berimbuhan. Contoh: Maha Pengasih, Maha Pemurah. Akan tetapi, ada pengecualian, khusus kata esa. Walaupun kata maha bertemu dengan kata dasar esa, gabungan kata maha dan esa ditulis terpisah. Jika penulisannya digabung, dikhawatirkan terjadi salah baca atau salah ketik, misalnya menjadi mahasa atau mahesa. Padahal, mahesa dalam bahasa Jawa dan Sanskerta berarti ‘kerbau’ sehingga bisa menimbulkan salah penafsiran. Oleh karena itu, penulisan maha dan esa ditulis terpisah.

Jika unsur terikat itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung. Contoh: non-Indonesia; SIM-ku; KTP-mu, ATM-ku, dan di-PHK. Demikian pula, kata-kata yang awalnya bertanda hubung, tetap bertanda hubung meskipun mengalami afiksasi. Misalnya, merah-merah menjadi kemerah-merahan, lari-lari menjadi berlari-lari.

Satu hal lagi yang sering terlewat adalah penulisan nama geografis yang terdiri atas dua kata harus dirangkai, bukan dipisah. Misalnya: Tebingtinggi, Acehbesar, Gunungkidul, Bandaaceh, Sukabumi, Nusakambangan, dan lain-lainnya. Jika nama geografis terdiri atas tiga unsur atau lebih, nama geografis ditulis terpisah, seperti Tanjung Jabung Timur, Ogan Komering Ilir. Nama geografis yang menunjukkan arah mata angin ditulis terpisah meskipun hanya terdiri atas dua unsur, misalnya Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Jakarta Pusat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top