Siaran Interaktif Di RRI Semarang: Bahasa Mencerminkan Pikiran

Pada Selasa, 20 Januari 2015, pukul 20.00-21.00, RRI Semarang bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah melaksanakan siaran interaktif Siaran Bina Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada siaran tersebut hadir dua narasumber dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah yaitu Drs. Suryo Handono, M.Pd. dan Kahar Dwi Prihantono, S.S. Topik pada siaran tersebut adalah Bahasa Mencerminkan Pikiran.

Pada kesempatan tersebut, kedua narasumber menjelaskan tentang gagasan, ide, perasaan, dan lain sebagainya yang tersimpan dan tertumpuk dalam benak manusia dapat dikeluarkan dalam wujud bahasa. Hal ini dapat terjadi setelah melewati beberapa serangkaian proses. Demikian Tahapan proses yang pertama yaitu memilih atau menentukan konsep gagasan. Gagasan dan ide apa yang akan kita kemukakan?, atau perasaan apa yang akan kita sampaikan? Kemudian tahap berikutnya, yaitu memilih kata atau kelompok kata sebagai simbol untuk melambangkan konsep yang kita pikirkan tadi. Setelah kita menentukan pilihan kelompok kata yang kita gunakan untuk melambangkan konsep tadi, kita masuk ke tahap berikutnya yaitu merangkainya dalam kalimat dan kemudian menuturkannya kepada mitra tutur kita. Tahapan-tahapan tersebut merupakan tahapan proses berpikir yang kemudian melahirkan tuturan yang disebut bahasa.

Jika proses berpikir seseorang itu teratur, maka wujud bahasanya juga akan runtut dan teratur. Sebaliknya, jika proses berpikir seseorang itu tidak teratur, maka wujud bahasanya bisa melompat-lompat tidak teratur dan akan sulit dipahami oleh mitra tutur. Ada keterikatan erat antara wujud penggunaan bahasa seseorang dengan pikiran penggunanya tersebut. Itu idealnya. “Namun kenyataannya, banyak penggunaan bahasa yang tidak mencerminkan pikiran yang teratur, banyak orang yang lupa “memperhatikan” apakah bahasa yang digunakan sudah tertata dengan baik. Nah, hal itulah yang mengusik pikiran kami sehingga mengangkat masalah itu menjadi topik dalam diskusi malam ini.” terang salah satu narasumber dalam siaran tersebut, Drs. Suryo H., M.Pd..

Dalam diskusi interaktif tersebut juga dibahas tentang unsur bahasa yang disebut paralingual atau konteks situasi yang sangat memberikan pengaruh saat seseorang itu mengadakan kontak bahasa dengan orang lain. Terutama kontak bahasa yang terjadi secara langsung. Ada gerak tubuh, mimik muka, dan lain sebagainya yang membantu dan mendukung tersampainya maksud yang hendak disampaikan seseorang tersebut pada mitra tuturnya.

Terlepas dari itu semua, melalui diskusi interaktif tersebut telah memunculkan suara pendengar yang menyatakan akan keprihatinan terhadap bahasa anak kecil sekarang. Mereka minim pengetahuan akan bahasa Jawa serta unda usuknya dan kecintaannya terhadap bahasa Indonesia. Bahasa gaul dan bahasa campur yang mereka gunakan mencerminkan pikiran mereka. Bahasa itu pula yang didukung oleh lingkungan turut membentuk karakter anak-anak kecil masa kini. Harapan yang dinantikan adalah kepedulian dari pihak berwenang untuk memperbaiki kurikulum pelajaran kebahasaan.

Dengan demikian, penguasaan bahasa serta ketrampilan dan ketepatan menggunakannya itu sangat diperlukan oleh setiap individu. Semakin ia terampil menggunakan bahasa, pokok-pokok pikiran yang hendak disampaikan pun akan semaik baik diterima pendengar atau mitra tutur. Jadi, sudah tepat jika bahasa Indonesia memiliki slogan “mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar.” Baik dilihat dari ketepatan penggunaan berdasarkan konteks situasi, dan benar dilihat dari ketepatan tata bahasa. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top