Paramedis, Tenaga Medis, dan Naramedis

Oleh Kahar Dwi Prihantono

 

Bentuk terikat para- berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu pará yang bermakna ‘di samping, dekat, mengenai, berlawanan dengan’. Di dalam bahasa Inggris, bentuk para- tersebar pada kurang lebih 169 kata, seperti parasol ‘tabir surya’, parameter ‘parameter’, dan paragliding ‘paralayang’. Namun, terdapat satu kata yang dibangun dengan bentuk terikat para- yang bermakna ‘orang yang berprofesi sebagai’, yakni paramedicus (bahasa Belanda) dan paramedic (bahasa Inggris) yang bermakna ‘pembantu dokter; orang yang berprofesi sebagai pembantu dokter’. Pergeseran makna bentuk terikat ini ternyata terjadi pada bahasa Belanda dan Inggris. Bentuk terikat para- dimaknai sebagai ‘orang’. Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar ilmu kedokteran diyakini sebagai bahasa sumber penyerapan kata paramedis.

Belanda memperkenalkan ilmu kedokteran di Jawa pada 1840. Pada waktu itu didirikan Sekolah Dokter Djawa yang lama pendidikannya hanya dua tahun untuk mencetak “tenaga pembantu dokter” atau “mantri cacar” sebagai reaksi pemerintah kolonial atas merebaknya wabah cacar di Banyumas. Pada waktu itu pula penerjemahan istilah kedokteran mulai dilakukan untuk menjembatani pengajar berbahasa Belanda dengan siswa berbahasa Melayu dan Jawa. Kata paramedicus (bahasa Belanda) diyakini sebagai asal serapan kata paramedis dalam bahasa Indonesia yang bermakna ‘orang yang bekerja di lingkungan kesehatan sebagai pembantu dokter’. Selain menyerap kata, bahasa Indonesia juga menyerap pergeseran makna.

Sebuah upaya yang menarik telah dilakukan oleh dr. Sugito Wonodirekso, M.S., staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dia menawarkan istilah naramedis (di samping istilah tenaga medis yang telah ada sebelumnya) sebagai terjemahan paramedic. Usulan kata ini beliau sampaikan pada makalah yang berjudul “Upaya Penerjemahan Istilah Kedokteran di Indonesia dari Waktu ke Waktu” yang disampaikan pada Lokakarya Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia di Centre International d’étude Pédagogiques (CIEP) Sèvre, Paris, Perancis pada 2 s.d. 5 April 2002. Usulan tersebut merupakan usulan yang masuk akal karena bahasa Indonesia telah mengenal kata Sanskerta nara untuk mengungkapkan makna ‘orang’, seperti dalam kata gabung narasumber, narahubung, narapidana, dan narapraja. Setidaknya, beliau telah berusaha mengembalikan makna para- pada makna sebenarnya.

 

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari-Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas