Legalisir atau Legalisasi

Oleh Tri Wahyuni

 

Dibutuhkan karyawan dengan kualifikasi:
1) Pria/Wanita usia max 25 th
2) Pendidikan SMA/ D-3
3) Tidak buta warna
4) Jujur dan ulet
5) Bersedia ditempatkan di semua cabang

Bila Anda memenuhi kualifikasi tersebut silakan kirimkan lamaran Anda dilampiri ijazah terakhir yang dilegalisir, daftar riwayat hidup, kartu identitas, dan pas foto terbaru.

 

Iklan lowongan pekerjaan tersebut seringkali dijumpai di media cetak. Salah satu persyaratannya adalah melampirkan ijazah yang dilegalisir. Lalu, tepatkah penggunaan kata legalisir tersebut? Ternyata kata tersebut tidak baku. Kata yang baku adalah legalisasi. Ketidaktahuan dalam menggunakan bahasa baku acapkali menyebabkan kebingungan ketika akan menulis surat resmi atau bentuk tulisan formal lainnya. Hal tersebut rupanya menjadi kebiasaan di tengah masyarakat kita.

Kesalahan penggunaan kata legalisir dimulai dengan kesalahan pemahaman kata legaliseren dari bahasa Belanda. Kata legaliseren merupakan bentuk verba, bukan bentuk nomina seperti kata legalisir. Dengan demikian, kata legalisir tidak bisa dianggap sebagai bentuk kata serapan untuk legaliseren karena memiliki kelas kata yang berbeda. Adapun, legalisasi berasal dari serapan bahasa Inggris legalization atau dari bahasa Belanda legalisatie. Akhiran -tion (bahasa Inggris) dan -tie (bahasa Belanda) diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi akhiran -asi. Oleh karena itu, kata legalisasi inilah yang dianggap sebagai kata serapan yang benar. Di samping itu, penggunaan kata legalisasi tidak akan menimbulkan permasalahan jika kata tersebut mendapat imbuhan me- atau di- untuk dijadikan sebuah kata kerja.

Bahasa Indonesia kaya dengan kata-kata serapan dari bahasa asing. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan hendaknya masyarakat lebih cermat menggunakan kata baku dalam berkomunikasi.

 

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 2, Maret-April 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top