MEMBANGKITKAN SIKAP PERCAYA DIRI MENGGUNAKAN BAHASA JAWA

 

 

 

Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Tengah harus dilestarikan dan dikembangkan. Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 9 Tahun 2012 dan Peraturan Gubernur No.55 Tahun 2014 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian bahasa Jawa, utamanya menyadarkan masyarakat untuk tetap nguri-uri dan ngurip-urip bahasa Jawa. Jika bahasa Jawa hilang, budaya Jawa pun akan hilang. Oleh karena itu, mulai saat ini masyarakat harus bangkit menggalakkan penggunaan bahasa Jawa. Itulah ajakan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah,  Drs. Nurhadi Amiyanto, M.Ed.,  pada pidato pembukaan Sarasehan Bahasa dan Sastra Jawa, 25 Februari 2016, di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Sarasehan yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menghadirkan dua pembicara, yaitu Drs. Bambang Supriyono, M.Pd. (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah) dan Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum. (Universitas Negeri Semarang),  dan dipandu oleh Alfiah, S.Pd., M.Pd. (Universitas PGRI Semarang). Dalam paparannya yang berjudul “Pelestarian Bahasa Jawa di dalam Keluarga”, Drs. Bambang Supriyono, M.Pd. menyampaikan bahwa bahasa Jawa perlu ditanamkan secara utuh sejak anak-anak masih kecil. Penanaman bahasa tersebut sekaligus juga penanaman etika dan tradisi yang mencerminkan kerja sama dan interaksi yang indah. Namun, upaya itu pasti ada hambatan yang mestinya dijadikan tantangan, yaitu kemajuan teknologi yang tidak seimbang dengan pemertahanan karakter, komunikasi yang kurang harmonis, keinginan memperoleh hasil yang serba cepat, dan lingkungan yang tidak mendukung. Oleh karena itu, pembiasaan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga harus segera dilakukan.

Pada sisi lain, Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum. dalam paparannya yang bertajuk “Pengembangan Sikap Percaya Diri Generasi Muda terhadap Penggunaan Bahasa Jawa” menyampaikan bahwa saat ini generasi muda kurang mencintai bahasa dan budaya Jawa karena banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama mencari upaya serta sarana agar bahasa dan budaya Jawa dicintai oleh generasi muda.

Sarasehan yang berlangsung pada pukul 09.00–12.00 diselingi dengan kesenian cokekan persembahan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Dalam acara itu tercipta suasana diskusi yang hangat dan santai. Sampai akhir acara, peserta yang terdiri atas guru, dosen, pejabat pemerintahan, mahasiswa, siswa SMA, dan pemerhati bahasa Jawa masih antusias untuk berdiskusi. Hal itu menunjukkan bahwa sarasehan seperti ini memang mereka butuhkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top