Dialek atau Bahasa?

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari–Juni 2019

Oleh Dyah Susilawati, M.Hum.

Saat mendengar seseorang berbicara menggunakan tuturan yang sedikit berbeda dengan yang biasa kita gunakan, kita sering bertanya-tanya, “Bahasa manakah yang ia gunakan?” Padahal, jika dicermati bahasanya masih sama, hanya beberapa kosakatanya yang berbeda. Apakah tuturan tersebut dapat disebut bahasa yang berbeda ataukah hanya dialek yang berbeda?

Dalam ilmu dialektologi, terdapat istilah dialek, subdialek, isolek, idiolek, dan aksen. Konsep tersebut dapat dibedakan berdasarkan hasil perhitungan dialektometri. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, sebuah tuturan ditetapkan sebagai bahasa tertentu apabila memiliki perbedaan dengan tuturan lain hingga di atas 70%. Lantas, bagaimana cara masyarakat membedakan bahasa jika tidak mengetahui dilektometri tersebut? Secara sederhana, kita dapat mengenalinya dengan melihat apakah kita masih bisa memahami tuturan tersebut atau tidak. Hal ini di luar konteks seseorang yang memahami  berbagai bahasa (multilingual). Apabila kita masih dengan mudah memahami  tuturan tersebut, berarti tuturan tersebut masih satu bahasa dengan bahasa kita. Bisa jadi, perbedaannya hanya dialek. Misalnya, bahasa Jawa dialek Banyumas, dialek Solo, dialek Tegal, dan sebagainya. Sebaliknya, jika kita hanya sedikit memahami atau bahkan sama sekali tidak memahami  tuturan tersebut, bisa disimpulkan tuturan tersebut merupakan bahasa yang berbeda dengan bahasa kita. Apabila kita masih ragu dan belum pernah mendengar hasil penelitian terkait dengan tuturan tersebut, lebih baik kita menyebutnya sebagai isolek. Istilah isolek digunakan untuk menyebut secara netral sebuah tuturan yang masih belum kita ketahui status kebahasaannya.

Selain konsep dialek yang berkaitan dengan wilayah, ada juga konsep dialek menurut jenisnya, yaitu sebagai berikut

  1. dialek sosial: dialek wanita, dialek kaum sosialita;
  2. dialek temporal : dialek Melayu Kuno, Melayu klasik;
  3. dialek tinggi: variasi sosial atau regional suatu bahasa yang diterima sebagai standar bahasa dan dianggap  lebih tinggi daripada dialek lain.

Ada juga yang kemudian mencampurkan istilah dialek dengan logat dan aksen. Apa perbedaan dari ketiga istilah itu? Logat berarti ‘kata; dialek; cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah yang khas; perbendaharaan kata; kamus’. Adapun aksen berarti ‘tekanan suara pada kata atau suku kata; pelafalan khas yang menjadi ciri seseorang; tekanan; dan tanda diakritik’. Secara sederhana untuk memudahkan pemahaman, istilah dialek berkaitan dengan jenis tuturan, sedangkan logat dan aksen berkaitan dengan cara atau gaya bertutur.

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari–Juni 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas