Tecermin atau Tercermin

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 2, Juli–Desember 2019

Oleh Rini Esti Utami, S.S.

Kata tecermin dan tercermin merupakan bentuk bersaing yang digunakan oleh masyarakat, terutama di media daring. Berikut contoh penggunaan kata tersebut.

  • Hal itu salah satunya tercermin dalam pembagian SHU (tintapendidikanindonesia.com).
  • Anggaran riset kecil tecermin dari keterbatasan sarana dan prasarana riset di sejumlah lembaga ([LIPI@MEDIA] ).

Perdebatan penggunaan kedua kata tersebut cukup ramai di media daring. Ada yang bersikukuh menggunakan kata bercermin karena merasa lebih ”bernyawa” dan telah lama digunakan masyarakat. Ada pula yang berpendapat bahwa kata becermin itu lebih tepat karena sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat (TBBI, 2017:126) menyebutkan bahwa kaidah morfofonemik prefix ter- jika bertemu dengan suku pertama pangkal (kata) yang mengandung /ər/, fonem /r/ pada prefik ter- dapat muncul dan dapat pula tidak. Berikut contohnya.

ter     +   percaya  à tepercaya

ter     +   cermin    à tecermin

ter     +   percik     à tepercik

Meskipun pada kaidah tersebut memberikan peluang bahwa fonem /r/ dapat muncul, tapi bentuk yang benar (ter + cermin) adalah tecermin.

Hal tersebut dapat dibandingkan dengan prefik ber– yang selalu berubah be– jika ditambahkan pada pangkal (kata) yang suku pertamanya mengandung /ər/ (TBBI, 2017: 119). Contoh kata bekerja (ber– + kerja), beserta (ber– + serta), bepergian (ber- + pergi + -an), dan sebagainya. Begitu juga dengan prefik per– yang selalu berubah pe– apabila ditambahkan pada pangkal (kata) yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/ (TBBI, 2017: 120). Contoh kata pekerja (per– + kerja), peserta (per– + serta), dan sebagainya.

Jika kata bekerja, beserta, bepergian, pekerja, dan peserta dapat diterima oleh masyarakat, mestinya kata tepercaya, tecermin, tepercik, tebersih, dan tepergok pun dapat diterima oleh masyarakat. Ada tiga hal yang mendasari bentuk-bentuk tersebut semestinya dapat diterima oleh masyarakat yaitu, (a) hemat; (b) lebih ringan atau mudah pengucapannya; dan (3) konsisten.

Dalam penulisan bercermin menjadi becermin, ada penghematan satu huruf dalam satu kata, yaitu /r/. Pengucapan kata becermin menjadi lebih ringan atau mudah bila dibandingkan dengan kata bercermin karena tidak mengucapkan dua huruf /r/ pada dua suku kata yang berdekatan. Terakhir, agar bahasa Indonesia mudah untuk dipelajari, sebaiknya dihindari bentuk pengecualian sebuah aturan agar konsisten. Bila menilik aturan prefik per– dan ber– yang telah dijelaskan tersebut, bentuk becermin merupakan bentuk yang benar jika dibandingkan dengan bentuk bercermin.

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 2, Juli–Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas