Berbeda dengan Mesin, Penerjemah Harus Memahami Konteks Budaya

Agus Sudono

Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Sultan Agung (Unissula) bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar webinar dengan tema “Peran Penerjemah di Era Digital” pada 27 November 2021. Acara mahasiswa magang di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah bertajuk Seri Magang Berkarya tersebut diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung melalui You Tube. Webinar ini menghadirkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ganjar Harimansyah; Diana Hardianti, M.Hum., dosen Sastra Inggris Unimus; dan Andra Fakhrian, M.Pd., dosen Universitas Darwan Ali.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ganjar Harimansyah, mengatakan bahwa dunia dihadapkan dengan tantangan perkembangan digital yang semakin pesat. Perkembangan ini memiliki berbagai dampak positif dan negatif. Banyak sektor yang akhirnya tergerus dan tersingkirkan oleh teknologi digital.

“Menjadi seorang penerjemah haruslah memahami dan mengaplikasikan semua konten digital ke dalam pekerjaan mereka. Meski teknologi semakin maju dan mulai mendominasi kehidupan manusia, hati nurani manusia yang diungkapkan lewat bahasa tidak akan tergantikan oleh mesin,” kata Ganjar.

Sementara itu, Diana Hardianti menyatakan bahwa saat ini manusia dihadapkan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat dan era globalisasi yang menjadikan tidak ada sekat antarmanusia. Keakuratan dari mesin penerjemah yang bekerja dengan algoritma tentu masih memiliki beberapa kekurangan dalam menerjemahkan bahasa.

“Terjemahan mesin penerjemah berbeda dengan terjemahan seorang penerjemah yang dapat menentukan konteks bahasa. Membedakan budaya, baik itu budaya timur maupun barat, tidak dapat dilakukan oleh mesin penerjemah,” jelas Diana.

Andra Fakhrian mengatakan bahwa teknologi sebenarnya dapat dijadikan sahabat jika para penerjemah dapat mengombinasikannya sesuai dengan kebutuhan. “Dengan alat bantu ini diharapkan kualitas hasil terjemahan akan semakin baik,” tandasnya.

Andra menjelaskan bahwa menjadi seorang penerjemah memerlukan keahlian, di antaranya, pemahaman membaca dengan baik, menulis, dan juga memahami budaya. “Penerjemah harus mengetahui bagaimana cara  menerjemahkan sesuai dengan target bahasa dan menentukan gaya bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi, baik formal maupun nonformal,” tambahnya.

 

Editor: Desi Ari Pressanti

(asa/des/est)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top