Berkolaborasi dengan Undip dan MAN Salatiga, Mahasiswa Magang di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Gelar Webinar Sastra Pariwisata

Sunarti

SEMARANG, balaibahasajateng.kemdikbud.go.id — Mahasiswa magang Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Diponegoro (Undip) di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menggelar webinar dengan mengangkat tema “Berkarya dengan Sastra Pariwisata” melalui aplikasi Zoom pada 10 September 2022. Kegiatan yang digelar atas Undip, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, dan MAN Salatiga tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Drs. Ary Setyadi, M.S. (dosen Sastra Indonesia, FIB, Undip), Dr. Redyanto Noor, M.Hum. (dosen Sastra Indonesia FIB, Undip), dan Genisti Arselia Gusmiarnum (mahasiswa Sastra Indonesia, FIB, Undip, dan penulis buku Dewasa Ditoreka Kelam). Sebanyak 77 peserta dari berbagai wilayah, jenjang pendidikan, dan profesi mengikuti webinar tersebut.

Ketua Program Studi Sastra Indonesia Undip, Dr. Sukarjo Waluyo, M.Hum., berharap kegiatan webinar tersebut dapat dijadikan sebagai ruang belajar bagi mahasiwa. Dia juga berharap kerja sama yang sudah terjalin bisa terus berlanjut dan dapat dikembangkan ke hal-hal lain yang lebih positif.

Irfiah Firoroh, S.Pd., M.Si., guru MAN Salatiga, menyatakan bahwa webinar tersebut dapat memberikan manfaat bagi penyelenggara maupun peserta. Dia berharap bentuk kerja sama beberapa instansi tersebut dapat memberikan berkah dan manfaat yang lebih nyata dalam perkembangan dunia sastra.

“Semoga kegiatan semacam ini bisa menjadi rujukan bentuk kerja sama berkelanjutan sehingga dapat menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi pengembangan dunia Pendidikan,” ungkap Irfiah.

Sementara itu, Drs. Ary Setyadi, M.S., narasumber yang pertama memaparkan materinya menjelaskan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi serta pengemas ide yang bersifat lugas dan majas.

“Menulis itu untuk orang lain sehingga harus pempertimbangkan kaidah bahasa, enak dibaca, dan perlu,” ujar Ary.

Ary menambahkan, bahwa bagi pelajar, membaca bukan sebagai hobi, tetapi merupakan kewajiban. “Kalau dikatakan belajar sebagai hobi bagi pelajar, itu tidak tepat. Bagi pelajar, membaca adalah kewajiban,” tandasnya.

Dr. Redyanto Noor, M.Hum. mengatakan bahwa hubungan sastra dan pariwisata secara substansial sebenarnya sudah ada sejak lama. Dalam kajian interdisipliner, sastra pariwisata memiliki beberapa tujuan, salah satunya yaitu menyajikan hubungan timbal balik antara karya sastra dan pariwisata.

“Banyak karya sastra yang terinspirasi dari fenomena pariwisata dan banyak juga daya tarik wisata yang dipopulerkan melalui karya sastra,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, meskipun hubungan sastra dan pariwisata sudah ada sejak lama, kajian sastra yang menggunakan pendekatan pariwisata belum familier.

“Pada umumnya studi sastra terlalu fokus pada karya yang serius dan terkesan mengabaikan sastra populer, termasuk yang bertema pariwisata,” tambahnya.

Genisti, mahsiswa yang juga sebagai penulis muda, berbagi pengalaman dalam menulis karya sastra. Dia memaparkan tips dalam memulai menulis karya sastra dan bagaimana mengatasi permasalahan dalam proses penciptaan karya sastra. Dalam mengolah gagasan menjadi karya sastra, Genisti mengajak peserta webinar untuk tidak takut memulai dan mencoba menulis sebisanya.

“Menulislah dengan ketulusan, cinta, kebutuhan, dan menghargai setiap karya orang lain,” pesannya.

Editor: Agus Sudono

(sun/asa/est)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas