Kritis tapi Sarkastis, Bolehkah?

Hannan Fuad Kholis

Kritik berbalut sarkasme di media sosial oleh generasi muda sebagai bagian dari warganet menjadi cara yang populer dalam menyuarakan pandangan mereka terhadap sesuatu. Akan tetapi, dalam banyak kasus, kritik tersebut bisa menjadi tidak etis, bahkan mampu menimbulkan konflik dan ketidaksepakatan antarpengguna media sosial.

Pada April 2023 kemarin jagat maya sempat dihebohkan dengan video berisi dugaan penghinaan terhadap Presiden Ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri. Video tersebut  diunggah oleh Bima Yudho Saputro melalui akun Tiktoknya @awbimaxreborn pada 2 April 2023. Dalam video yang lain, Bima juga sempat menyebut Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, dengan kata-kata yang dirasa tidak pantas. Kreator konten asal Lampung itu memang acapkali menggunakan kata-kata yang menohok dalam   videonya. Dia juga sering menunjukkan kelihaiannya dalam berkata sarkastis.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud sarkasme itu? Sarkasme, menurut KBBI V, adalah kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar. Biasanya sarkasme terjadi dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan sifat negatif, seperti marah, muak, dan jengkel. Sarkasme digunakan juga untuk suatu tuntutan dalam berdemonstrasi.

Sarkasme atau sindiran tajam dalam bahasa sehari-hari bisa dianggap sebagai bagian dari kebebasan berekspresi atau berbicara. Sarkasme bahkan mampu menjadi bumbu dalam komunikasi tertentu. Akan tetapi, dalam konteks media sosial, sarkasme mampu menjadi bumerang yang berpotensi menimbulkan suatu permasalahan atau konflik.

Ketika menggunakan sarkasme di media sosial, seseorang harus dapat  mempertimbangkan konteks, tujuan, serta audiens yang akan dituju. Sarkasme mungkin dipahami beberapa orang sebagai guyonan, tetapi banyak orang yang akan merasa tersinggung oleh kata yang sarkastis. Di sisi lain sarkasme di media sosial dapat menyebabkan fitnah, perundungan siber, atau bahkan berdampak negatif pada citra diri seseorang.

Dengan melihat ramainya penggunaan sarkasme dalam media sosial, pemahaman atau penyuluhan kebahasaan kepada warganet perlu dilakukan. Hal ini dilakukan agar karakter bangsa yang merupakan identitas dan jati diri bangsa dapat terjaga dengan baik. Bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia, merupakan bahasa pemersatu bangsa. Apabila bahasa Indonesia tidak digunakan secara baik, hal itu dapat menjadi pemicu perpecahan.

Karena pentingnya peran dan fungsi bahasa, pengguna bahasa Indonesia harus  memahami ”tata cara dalam berbahasa” (linguistic etiquete). Hal tersebut merupakan norma yang terkait dengan hal berikut. (1) Apa yang sebaiknya disampaikan pada waktu dan kondisi tertentu; (2) ragam bahasa apa yang sebaiknya digunakan dalam situasi sosiolinguistik tertentu; (3)  bagaimana dan kapan waktu yang diperbolehkan untuk berbicara atau menyela pembicaraan orang lain; dan (4) kapan sebaiknya orang tidak berbicara (Nababan, 2013).

Meskipun tidak ada larangan dalam penggunaan sarkasme di media sosial, sudah sepantasnya warganet mempertimbangkan dampak dan konsekuensinya. Alangkah baiknya, warganet dapat  menggunakan bahasa yang baik, jelas, dan sopan serta menghindari kata-kata sarkasme.  Pengekspresian keresahan terhadap suatu hal dapat dilakukan dengan komunikasi yang positif.

Penggunaan diksi bahasa yang baik di media sosial sangat penting, terutama bagi warganet. Bahasa yang baik akan  mempermudah pemahaman serta komunikasi antarpengguna media social. Dengan begitu, pesan yang disampaikan akan lebih jelas  dan tepat sasaran. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik akan meningkatkan kredibilitas dan  profesionalitas seseorang sehingga mampu membuat kesan positif dan penghargaan dari orang lain. [han/asa/aas]

 

 

Artikel telah terbit di Radar Semarang

Hannan Fuad Kholis, Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2023

Penyunting : Agus Sudono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas