Strategi Penginternasionalan Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kebudayaan

Nurma Aisyah

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak hanya dituturkan di Indonesia, tetapi juga digunakan di negara-negara lain. Bahkan, beberapa universitas di luar negeri mendirikan Program Studi Bahasa Indonesia. Hal tersebut membuktikan bahwa bahasa Indonesia memiliki peminat yang cukup banyak dan menarik untuk dipelajari. Menurut Kementerian Luar Negeri RI pada Diplomasi Nomor 106 Tahun X, setidaknya terdapat 52 negara asing  yang membuka Program Studi Bahasa Indonesia. Antusiasme pembelajaran bahasa  Indonesia ini dapat kita lihat secara gamblang dengan adanya fakta tersebut.

Salah satu universitas di luar negeri yang memiliki Jurusan Bahasa Indonesia adalah Universitas Osaka. Tercatat sampai tahun 2022, jurusan tersebut memiliki 62 mahasiswa yang meliputi semua tingkatan. Pada tanggal 17—25 September 2022, 27 mahasiswa Osaka yang didampingi satu dosen dan satu asisem dosen mengikuti kegiatan Kursus Singkat Bahasa Indonesia Melalui Eksotisme Budaya Jawa. Kegiatan tersebut merupakan program kerja sama antara Program Studi Sastra Jawa, Universitas Gadjah Mada, dan Jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Osaka. Kegiatan tersebut juga melibatkan 27 mahasiswa Sastra Jawa, Universitas Gajah Mada, yang berperan sebagai mentor setiap mahasiswa Universitas Osaka tersebut.

Beberapa kegiatan dalam kursus tersebut, antara lain, kunjung museum, berlatih membatik, diskusi kebudayaan, dan berlatih bermain gamelan. Pada kesempatan tersebut, bahasa Indonesia dipelajari melalui perspektif kebudayaan untuk memudahkan pembelajaran, memberikan kiat efektif, dan memudahkan mengingat bahasa Indonesia bagi penutur asing.

Percakapan, komunikasi, dan diskusi dilakukan dengan menggunakan metode komunikatif dan produktif secara langsung. Perlu kita ketahui, bahasa yang digunakan ketika kegiatan berlangsung adalah bahasa Indonesia baku. Hal itu dilakukan karena yang pertama ditekuni adalah bagaimana bentuk bakunya, bukan langsung ragam bahasanya, sehingga memengaruhi kepahaman dalam konteks yang dibicarakan. Menuju hasil akhir, program Kursus Singkat Bahasa Indonesia Melalui Eksotisme Budaya Jawa itu ditutup dengan presentasi kelompok di setiap tingkatan. Peserta menganalisis bahasa Indonesia, budaya, dan keragaman budaya Jawa, serta diskusi bagaimana kehidupan saat pandemi Covid-19. Bahasa pengantar yang digunakan dalam program kursus singkat tersebut adalah bahasa Indonesia.

Beberapa peserta dari Universitas Osaka memberikan tanggapan yang baik  atas kegiatan kursus singkat bahasa Indonesia itu, baik dilihat dari metode, materi, bahasan diskusi, maupun cara komunikasinya. Yuzuki, mahasiswa tingkat III, memberikan penjelasan bahwa mempelajari bahasa Indonesia dengan pendekatan kebudayaan dapat memberikan kemudahan dalam memahami konteks pembicaraan. Daiki Shizuwo, juga mahasiswa Osaka, mengatakan bahwa bahasa Indonesia memang menjadi pilihannya karena dirinya tertarik dengan pertukaran pelajar. Di sisi lain, kata Yuzuki, bahasa   Indonesia saat ini semakin berkembang dan negara Indonesia juga menawan.

Sebagai salah satu mentor dalam kegiatan tersebut, saya memandang bahwa Kursus Singkat Bahasa Indonesia Melalui Eksotisme Budaya Jawa ini merupakan cara efektif untuk memberikan eksposur terhadap bahasa Indonesia. Kemudian, saya pun melakukan tanya jawab dengan beberapa peserta terkait dengan alasan mereka masuk ke Jurusan Bahasa Indonesia. Jawaban mereka, selain tertarik dengan budaya Indonesia, mereka juga berpandangan bahwa bahasa Indonesia itu unik dan menarik untuk dipelajari.

Kegiatan kursus singkat bahasa Indonesia tersebut diharapkan terus berkelanjutan, baik melalui beberapa instansi, lembaga, maupun di wilayah-wilayah tertentu dalam lingkup kebahasaan. Bukan hanya di kalangan civitas academica, melainkan kepada seluruh warga negara asing, baik di luar negeri maupun dalam negeri. Kegiatan serupa maupun kegiatan keberlanjutan dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan tanpa menghilangkan tujuan yang akan dicapai, yaitu memperluas program penginternasionalan bahasa Indonesia. [nur/asa/aas]

 

 

Artikel telah terbit di Radar Semarang

Nurma Aisyah, Duta Bahasa Jawa Tengah 2023

Penyunting: Agus Sudono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas