Strategi Menarik Minat Penutur Asing Belajar Bahasa Indonesia

Tiyo Ardianto

 

Saya baru saja pulang dari Australia untuk Program Guru Bantu bersama Victorian Indonesian Language Teacher Association (VILTA). Saya diundang sebagai asisten pengajar bahasa Indonesia di salah satu sekolah terbaik se-Victoria, Melbourne High School (MHS), selama satu bulan. Perjalanan saya dimulai dengan satu pertanyaan sederhana. Bagaimana anak-anak Australia tertarik belajar bahasa Indonesia? Sambil merasakan musim dingin dengan suhu terendah sampai 2° Celcius, saya mencari kepingan-kepingan jawabannya.

Pada hari pertama ke sekolah, saya bergabung dalam assembly, semacam apel pagi atau suatu majelis pertemuan sebelum kegiatan belajar-mengajar dilangsungkan. Mars Melbourne High School dan lagu kebangsaan Australia didendangkan. Pidato disampaikan oleh kepala sekolah. Mula-mula Dr. Tony Mordini menyambut anak-anak dengan ucapan selamat datang kembali di sekolah setelah libur semester. Dia berharap semua siswa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan saat liburan. Hal yang paling menarik sekaligus mengejutkan adalah video yang diputar di tengah pidatonya. Video itu merupakan dokumentasi liburan anak-anak Melbourne High School saat tur di Indonesia.

Suara yang tersembunyi dalam sunyi kemudian berbunyi. Anak-anak yang sebelumnya khidmat menyimak pidato kini merespons video yang ditayangkan itu. Kurang jelas persisnya apa yang mereka bicarakan. Namun, saya sedikit memahami situasinya. Tidak semua anak dalam ruangan itu tampil dalam video. Tidak semuanya turut dalam tur belajar ke Indonesia. Hanya, mereka yang mengikuti tur itu terlihat memiliki pengalaman mengesankan karena dengan antusias  menceritakannya kepada yang lain. Anak-anak yang tak turut dalam tur belajar itu pun terlihat penasaran dibuatnya.

Di Melbourne High School, anak-anak diwajibkan untuk belajar setidaknya tiga bahasa asing. Di antara pilihan yang ditawarkan adalah bahasa Mandarin, bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman. Pembelajaran pada setiap bahasa asing biasanya diakhiri dengan tur ke negara asal bahasa tersebut.

Dari lima pilihan bahasa tersebut, bahasa Indonesia sangat digemari. Hal itu konon disebabkan bahasa Indonesia memiliki struktur yang mudah dipelajari, di antaranya tidak ada tenses atau perbedaan waktu dan tidak ada perbedaan gender. Hal demikian tentu mempermudah anak-anak mendapatkan nilai ujian yang memuaskan. Selain itu, keindahan alam dan kedekatan geografis membuat biaya tur ke Indonesia di akhir pembelajaran relatif lebih terjangkau.

Sebagai gambaran, dalam video yang berhasil membuat suasana apel berubah seratus delapan puluh derajat itu, tampak anak-anak berkunjung ke Bali, Labuan Bajo, dan Pulau Komodo. Anak-anak belajar tawar-menawar dengan menggunakan bahasa Indonesia. Anak-anak Melbourne High School yang semuanya laki-laki itu pun dipertemukan dengan sebayanya, anak-anak perempuan Indonesia, untuk berlatih berbicara. Ada kisah asmara sewajarnya remaja yang mewarnai perjalanan itu: lucu dan lugu. Ketika video itu berakhir, Dr. Tony Mordini berkata bahwa tahun depan pun sekolah akan mengadakan program yang sama untuk tur belajar ke Indonesia. Sebagian anak bersorak gembira. Sebagian lain risau karena tak memilih mata pelajaran bahasa Indonesia dalam rencana belajarnya.

Setelah apel itu selesai, saya menyaksikan beberapa anak menghampiri Bu Silvy Wantania, guru bahasa Indonesia, yang saya asisteni sekaligus Presiden VILTA. Mereka adalah anak-anak yang risau karena tidak memilih bahasa Indonesia dalam rencana belajar. Sebagaimana di kalangan mahasiswa Indonesia dikenal periode revisi kartu rencana studi (KRS). Anak-anak itu pun memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah mata pelajaran yang dipilihnya. Entah pelajaran bahasa asing apa yang dikorbankannya, tetapi mereka kemudian berbondong-bondong memilih bahasa Indonesia.

Perasaan bangga bercampur haru menyelimuti benak saya. Pertanyaan tentang bagaimana anak-anak Australia tertarik belajar bahasa Indonesia menemukan satu kepingan jawabannya. Ternyata salah satu kuncinya adalah eksposur daya tarik wisata. Buktinya, setelah terekspos video wisata ke Indonesia dengan segala keatraktifannya, mereka menjatuhkan pilihan untuk ikut kelas bahasa Indonesia. Sebuah strategi sederhana sebenarnya. Di tengah kehidupan sibuk masyarakat Australia, wisata menjadi sangat berharga. Di mata mereka, Indonesia adalah dataran keindahan yang mampu meregangkan saraf kerja. Indonesia menjadi sebuah destinasi yang layak dikunjungi kala libur tiba. Mahir berbahasa Indonesia pasti akan mempermudah dan memperindah safari mereka. Berkaca pada pengalaman di sekolah ini, strategi yang sama dapat diterapkan untuk menarik minat penutur asing belajar bahasa Indonesia di universitas atau lembaga pembelajaran bahasa Indonesia di Indonesia. [tyo/asa/aas]

 

 

Artikel telah terbit di Radar Semarang

Tiyo Ardianto, Duta Bahasa Jawa Tengah 2022

Penyunting: Agus Sudono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas