Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Mengadakan Bimtek Pengajar Utama Revitalisasi Bahasa Daerah Tingkat SMP

Agus Sudono

KABUPATEN SEMARANG, balaibahasajateng.kemdikbud.go.id—Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengajar Utama Revitalisasi Bahasa Daerah Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Rabu—Senin, 28 Februari—4 Maret 2024 di kantornya, Jalan Diponegoro 250, Ungaran, Kabupaten Semarang. Bimtek tersebut diikuti 140 peserta yang terdiri atas guru bahasa Jawa dan pengawas SMP dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dr. Syarifuddin, mengatakan bahwa strategi utama untuk mempertahankan bahasa, termasuk bahasa daerah, adalah dengan menggunakannya.

“Strategi utama untuk mempertahankan bahasa itu kan penuturnya. Lembaga bahasa, jurusan bahasa, bergerak masif, tetapi penuturnya tidak mau, ya tidak bisa,” ujar Syarifuddin saat membuka Bimtek Pengajar Utama di Balairung Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah pada 28 Februari 2024.

Syarifuddin mengatakan bahwa bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Jawa, disampaikan oleh guru bahasa Jawa untuk diajarkan kepada siswanya di sekolah. Selain itu, guru bahasa Jawa juga harus mampu mentransmisikan bahasa Jawa kepada keturunannya.

“Kalau mengajar pelajaran bahasa daerah memakai bahasa Jawa, di rumah juga dipakai. Bahasa itu, kalau penuturnya tetap menggunakan secara intens, tentu aman,” katanya.

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah juga terus memberikan penguatan dengan mengajak para penutur agar mempunyai sikap positif terhadap bahasa daerahnya. Penutur yang tidak menanamkan sikap positif terhadap bahasa daerah tidak akan menggunakannya.

“Kalau dia cinta bahasa Jawa, pasti akan menggunakannya,” jelasnya.

Syarifuddin mengungkapkan bahwa dirinya tetap menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan keluarga, termasuk ketika berada di kampung halamannya.

“Itu sebenarnya suatu bentuk pemertahanan bahasa. Satu strateginya, yakni gunakan. Walaupun saya digempur bahasa Jawa, saya setiap berkomunikasi dengan keluarga saya, di kampung halaman, saya selalu menggunakan bahasa ibu,” terangnya.

Ia juga berharap guru-guru bahasa daerah bisa lebih kreatif mengajarkan bahasa daerah kepada anak didiknya.  Sekarang ini dalam Merdeka Belajar, guru diberikan kebebasan bagaimana materi di sekolah diimplementasikan dengan kreativitas, seperti mendongeng, komedi tunggal, menulis cerkak, dan membaca geguritan, dengan menggunakan bahasa daerah.

“Jadi, penggunaan bahasa daerah tidak hanya sebatas pembelajaran formal, sesuai dengan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar,” tambahnya.

Syarifuddin menuturkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan bahasa daerah terbesar kedua di dunia, yakni 718 bahasa, di bawah Papua Nugini dengan 829 bahasa daerah.

Sementara itu, Koordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Pemodernan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Shintya, M.S., menyatakan bahwa kegiatan tersebut diikuti 140 guru bahasa Jawa dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dalam kegiatan bimtek itu, para guru bahasa Jawa dan pengawas akan mendapatkan pembekalan materi bahasa daerah, yakni bahasa Jawa.

“Tahun ini ada penambahan mata lomba pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jawa Tengah 2024. Jika tahun lalu hanya menulis dan membaca bahasa Jawa, mendongeng, pidato, dan menulis cerita cekak, saat ini ada tambahannya, yakni membaca geguritan, nembang macapat, dan komedi tunggal,” jelasnya. [asa/aas]

 

 

Penyunting: Agus Sudono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas