Badan Bahasa Targetkan 200.000 Lema pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Tahun 2024

Jakarta, 14 Juni 2024 – Pasca ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada tahun 2023, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) terus berpacu meningkatkan jumlah lema Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hal tersebut dilaporkan Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI pada 10 s.d. 12 Juni 2024 di Jakarta.

“Program yang sedang dilakukan di tahun 2024 adalah menambah entri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hingga sejumlah 200.000 lema. Hal ini merupakan pencapaian yang belum pernah dilakukan, karena pada tahun-tahun sebelumnya penambahan biasanya hanya sejumlah 2.500 lema per pemutakhiran, sedangkan tahun ini akan menambahkan 80.000 lema,” terang Aminudin.

Selain itu, Aminudin menjelaskan bahwa perkembangan jumlah kosakata dapat meningkatkan status bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, melalui hal-hal berikut. Pertama adalah fleksibilitas dan adaptabilitas, di mana bahasa dengan cakupan kosakata yang luas cenderung lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan dengan berbagai konteks dan situasi. Ini membuat bahasa Indonesia lebih mudah digunakan dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, bisnis, dan seni.

Kemudian keanekaragaman ekspresi, karena kosakata yang banyak memungkinkan penutur untuk mengekspresikan ide, konsep, dan nuansa dengan lebih tepat dan rinci. Sehingga dapat lebih baik dalam menggambarkan konsep-konsep kompleks, yang penting dalam diskusi akademis dan profesional. Terakhir yaitu penerimaan dan pengembangan, bahasa dengan jumlah kosakata yang banyak dapat lebih mudah diterima dan dikembangkan di berbagai komunitas. Penutur bahasa lain mungkin lebih mudah mengadopsi bahasa yang memiliki banyak kosakata yang relevan dengan kebutuhan mereka.

 

Upaya Pemerintah Mewujudkan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional Tahun 2045

Pemerintah melalui Badan Bahasa telah mengupayakan program internasionalisasi bahasa Indonesia, dengan penyebaran bahasa Indonesia ke luar negeri sebagai salah satu faktor dalam meningkatkan fungsi dan status bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Bahasa Indonesia saat ini sudah diajarkan di 54 negara di dunia melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Melalui sinergi yang baik antara Kemendikbudristek dan Kementerian Luar Negeri, diharapkan setidaknya hingga tahun 2045, bahasa Indonesia dapat diajarkan di 128 perwakilan RI di 94 negara. Selain itu, minat lembaga pendidikan di luar negeri untuk membuka program bahasa Indonesia juga semakin meningkat. Pada tahun 2023, tercatat terdapat 86 universitas di luar negeri yang memiliki program bahasa Indonesia, di antaranya Universitas Harvard (Amerika Serikat), Universitas Al Azhar (Mesir), Universitas Viena (Austria), Universitas Sofia (Bulgaria), Universitas Notingham (Inggris), dan Universitas Negeri Moskow (Rusia).

Capaian lain di tingkat internasional adalah ditetapkannya peringatan 100 tahun A. A. Navis oleh UNESCO. Pada penutupan Sidang Umum ke-42 UNESCO di Paris, Direktur Jenderal UNESCO mengumumkan A.A. Navis sebagai salah satu tokoh Indonesia yang ulang tahun ke-100-nya dirayakan sebagai peringatan internasional. A. A. Navis merupakan sastrawan dan kritikus budaya kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, dengan kontribusi besar terhadap kesusastraan Indonesia dan peradaban dunia. Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami.

 

Tiga Program Prioritas bidang Kebahasaan dan Kesastraan

Dalam RDP tersebut Aminudin juga menjelaskan tiga program prioritas di Badan Bahasa beserta capaiannya. “Program kami besarannya ada tiga, yaitu literasi kebahasaan dan kesastraan, revitalisasi bahasa daerah, dan internasionalisasi bahasa Indonesia,” ujarnya.

Terkait literasi, tugas utama Badan Bahasa salah satunya adalah menyediakan buku-buku bacaan bermutu untuk jenjang PAUD dan SD. Pada tahun 2022, Badan Bahasa telah mendistribusikan sejumlah 16,8 juta buku ke 20.000 sekolah. Kemudian pada tahun 2024 akan kembali didistribusikan sejumlah 21 juta buku ke sekolah dengan predikat tingkat literasi, berdasarkan Asesmen Nasional (AN), masih rendah sejumlah 45.000 Sekolah Dasar (SD), dan setiap sekolah akan mendapatkan 600 eksemplar. Selain itu,guru-guru SD tersebut akan diberi pelatihan bersama dengan komunitas-komunitas literasi.

Program kedua yaitu Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD), dilaksanakan untuk merespon kekhawatiran terkait penurunan vitalitas bahasa daerah. Pada tahun 2021, Badan Bahasa telah mulai melakukan revitalisasi bahasa daerah dengan pola baru, dan program ini menunjukkan adanya kenaikan yang sangat baik dari segi partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam program pelindungan bahasa dan sastra daerah. Adapun capaian program ini setiap tahunnya sebagai berikut. Tahun 2021 sebanyak 5 bahasa daerah, tahun 2022 sebanyak 39 bahasa daerah, tahun 2023 sebanyak 72 bahasa daerah, dan tahun 2024 sebanyak 93 bahasa daerah.

Kemudian terkait program ketiga yakni internasionalisasi bahasa Indonesia, Aminudin menyampaikan, “Merupakan prestasi yang luar biasa khususnya bagi Badan Bahasa. Awalnya berdasarkan Kongres Bahasa Indonesia Tahun 2018, bahasa Indonesia ditargetkan untuk menjadi bahasa internasional pada tahun 2045. Kami melakukan percepatan dengan berbagai langkah, kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri, kerja sama dengan pihak-pihak UNESCO, dan melakukan pendekatan dengan negara-negara anggota UNESCO. Akhirnya, pada tanggal 20 November 2023, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai salah satu Bahasa resmi di Sidang Umum UNESCO.”

 

Perkuat Literasi melalui Buku Bacaan Bermutu

Aminudin menekankan pentingnya literasi bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, target Badan Bahasa pada tahun 2025 adalah penyediaan buku-buku bahan bacaan untuk jenjang SD kelas 4, 5, 6, dan SMP, ditambah buku-buku untuk anak-anak yang masuk kategori berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhan mereka.

Penyediaan buku bacaan bermutu dengan disertai pelatihan dan pemanfaatan buku tersebut secara baik, dapat menaikkan kompetensi literasi dan numerasi siswa. Hal tersebut diperkuat dengan hasil kajian dari INOVASI, bahwa pelatihan disertai buku bacaan telah menaikkan nilai literasi siswa sebanyak 8% pada kemampuan membaca dan 9% pada kemampuan mendengar.

Dalam kesempatan RDP tersebut, Aminudin Aziz juga menyerahkan hasil kerja Badan Bahasa kepada seluruh anggota Komisi X DPR RI, yang diterima langsung oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih dan Hetifah Sjaifudian.

Buku yang diserahkan di antaranya (1) KBBI Edisi V dan Antologi Cerita Anak ASEAN yang diterjemahkan ke dalam bahasa negara ASEAN sebagai upaya mendukung diplomasi kebahasaan di Indonesia. (2) Buku Zamrud Khatulistiwa yang merupakan Antologi Cerpen Berbahasa Daerah karya cerpenis muda, peserta kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dari Sabang sampai Merauke. Buku tersebut merupakan hasil dari praktik baik upaya pelindungan bahasa daerah yang menjadi program prioritas Badan Bahasa. (3) Buku bacaan bermutu hasil sayembara penulisan cerita anak yang dikirimkan ke wilayah 3T sebagai upaya penanggulangan darurat literasi di Indonesia, serta (4) tiga edisi Risalah Kebijakan yaitu edisi-1 Arah Baru Revitalisasi Bahasa Daerah: Menekan Laju Kepunahan Bahasa Daerah di Indonesia, edisi-2 Bahasa dan Perubahan Iklim: Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata untuk Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik, serta edisi-3: Memperkuat Literasi Indonesia: Menuju Bangsa yang Maju dan Bermartabat. [aas]

Sumber : Siaran pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi nomor 247/sipers/A6/VI/2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas